Selasa, 17 Agustus 2010

Khawarij dan Ayat Hukum (QS Al-Maidah 44)




Setelah dipaparkan bagaimana pandangan Ahlus-Sunnah terhadap ayat hukum (QS. Al-Maaidah : 44), yaitu di artikel sini, sekarang giliran kita lihat bagaimana cara pandang Khawarij terhadap ayat tersebut.
Telah berkata Al-Imaam Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain Al-Aajurriy rahimahullah (w. 360 H) :
ومما يتبع الحرورية من المتشابه قول الله عز وجل : وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ . ويقرؤون معها : ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ فإذا رأوا الإمام يحكم بغير الحق قالوا : قد كفر . ومن كفر عدل بربه ، فقد أشرك ، فهؤلاء الأئمة مشركون ، فيخرجون فيفعلون ما رأيت ، لأنهم يتأولون هذه الآية .
“Dan termasuk di antara syubhat yang diikuti kaum Haruuriyyah (Khawaarij) dalam firman Allah ta’ala : ‘Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang kafir’ (QS. Al-Maaidah : 44). Mereka membacanya bersama ayat : ‘Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka’ (QS. Al-An’aam : 1). Apabila mereka melihat seorang imam (penguasa) yang berhukum bukan dengan kebenaran, mereka pun berkata : ‘Sungguh ia telah kafir. Dan barangsiapa yang kafir, maka ia telah mempersekutukan Rabb-nya, dan sungguh ia telah berbuat syirik. Mereka adalah para pemimpin kaum musyrik’. Akhirnya, mereka (Khawaarij) keluar (dari ketaatan) dan melakukan apa-apa yang telah kamu lihat. Hal itu dikarenakan mereka mena’wilkan (secara keliru) ayat ini” [Asy-Syarii’ah, 1/144, tahqiq : Al-Waliid bin Muhammad; Muassasah Qurthubah, Cet. 1/1417].


Telah berkata Al-Haafidh Abu ‘Umar Yuusuf bin ‘Abdillah bin Muhammad bin ‘Abdil-Barr rahimahullah (w. 463 H) :
وقد ضلت جماعة من أهل البدع من الخوارج والمعتزلة في هذا الباب فاحتجوا بهذه الآثار ومثلها في تكفير المذنبين واحتجوا من كتاب الله بآيات ليست على ظاهرها مثل قوله عز وجل {وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ}
“Dan sungguh telah tersesat sekawanan ahlul-bida’ dari kalangan Khawaarij dan Mu’tazilah dalam bab ini. Mereka berhujjah dengan atsar-atsar ini dan yang semisalnya dalam pengkafiran orang-orang yang berbuat dosa. Mereka pun berhujjah dengan Al-Qur’an berupa ayat-ayat yang tidak dimaksudkan sebagaimana dhahir-nya, seperti firman-Nya ‘azza wa jalla : ‘‘Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang kafir’ (QS. Al-Maaidah : 44)’ [At-Tamhiid limaa fii Muwaththa’ Maalik minal-Asaanid, 17/16 – melalui perantaraan Al-Burhaanul-Miniir fii Dahdli Syubuhaati Ahlit-Takfiir wat-Tafjiir oleh ‘Abdul-‘Aziiz bin Rays Ar-Rays – http://www.islamancient.net].[1]
Telah berkata Al-Imaam Al-Jashshaash rahimahullah :
وقد تأولت الخوارج هذه الآية على تكفير من ترك الحكم بما أنزل الله من غير جحود
“Dan Khawaarij telah menta’wikan ayat ini akan kafirnya orang yang meninggalkan hukum yang diturunkan Allah tanpa pengingkaran” [Ahkaamul-Qur’aan, 2/534 – melalui perantaraan Al-Burhaanul-Miniir fii Dahdli Syubuhaati Ahlit-Takfiir wat-Tafjiir oleh ‘Abdul-‘Aziiz bin Rays Ar-Rays – http://www.islamancient.net].
Al-Imaam Abul-Mudhaffar As-Sam’aaniy rahimahullah (w. 486 H) :
واعلم أن الخوارج يستدلون بهذه الآية ويقولون من لم يحكم بما أنزل الله فهو كافر وأهل السنة قالوا لا يكفر بترك الحكم وللآية تأويلان أحدهما معناه ومن لم يحكم بما أنزل الله ردا وجحدا فأولئك هم الكافرون والثاني معناه ومن لم يحكم بكل ما أنزل الله فأولئك هم الكافرون
“Ketahuilah, bahwasannya Khawaarij berdalil dengan ayat ini, dimana mereka berkata : ‘Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan, maka ia kaafir’. Adapun Ahlus-Sunnah berkata : ‘Tidak dikafirkan dengan meninggalkan hukum (Allah)’. Ada dua tafsir terkait ayat tersebut : (1) Maknanya adalah, barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah dengan penolakan dan pengingkaran, maka mereka termasuk orang-orang kafir; dan (2) Maknanya adalah, barangsiapa yang tidak berhukum dengan semua apa yang diturunkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang kafir” [Tafsir As-Sam’aaniy, 2/42; Daarul-Wathan, Cet. Thn. 1417].
Telah berkata Al-Qaadliy Muhammad bin Al-Husain bin Muhammad bin Al-Farraa’ atau lebih terkenal dengan Abu Ya’laa rahimahullah (w. 458 H) :
واحتج بقوله تعالى (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ)، وظاهر هذا يوجب إكفار أئمة الجور وهذا قولنا.
والجواب : أن المراد بتلك اليهود
"Khawaarij berhujjah dengan firman Allah ta'ala : 'Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang kafir'. Dhaahir ayat ini mewajibkan untuk mengkafirkan para pemimpin yang jahat/dhalim. Inilah perkataan kami. Jawabannya : Bahwasannya yang dimaksudkan ayat itu adalah Yahudi....." [Masaailul-Iimaan, hal. 340, tahqiq & ta’liq : Su’uud bin ‘Abdil-‘Aziiz Al-Khalaf; Daarul-‘Aashimah, Cet. 1/1410].
Abul-’Abbas Al-Qurthubi rahimahullah (guru dari mufassir Abu ’Abdillah Al-Qurthubi rahimahullah penulis Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’an) berkata :
وقوله تعالى : { ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون )) ؛ يحتجُّ بظاهره من يُكفِّرُ بالذنوب ، وهم الخوارج ، ولا حجَّة لهم فيه ؛ لأنَّ هذه الآيات نزلت في اليهود المحرفين كلام الله تعالى ، كما جاء في هذا الحديث ، وهم كفار ، فيشاركهم في حكمها من يشاركهم في سبب نزولها . وبيان هذا : أن المسلم إذا علم حكم الله تعالى في قضيَّة قطعًا ، ثم لم يحكم به ؛ فإن كان عن جَحْدٍ كان كافرًا ، لا يختلف في هذا . وإن كان لا عن جَحْدٍ كان عاصيًا مرتكب كبيرة ؛ لأنَّه مصدق بأصل ذلك الحكم ، وعالم بوجوب تنفيذه عليه ، لكنه عصى بترك العمل به ، وهكذا في كل ما يعلم من ضرورة الشرع حكمه ، كالصلاة ، وغيرها من القواعد المعلومة . وهذا مذهب أهل السُّنه.
”Firman Allah ta’ala : Barangsiapa yang tidak berhukum/memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir [QS. Al-Maaidah : 44]. Dhahir ayat ini dijadikan hujjah bagi orang yang mengkafirkan orang yang berbuat dosa (yaitu khawarij), padahal tidak ada hujjah bagi mereka pada ayat tersebut. Karena ayat-ayat ini turun pada orang Yahudi yang menyelewengkan firman Alah ta’ala, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits, dan mereka adalah orang-orang kafir. Maka orang-orang yang semisal dengan mereka yang menjadi sebab turun ayat ini, sama pula hukumnya. Penjelasannya adalah : Sesungguhnya seorang muslim bila dia mengetahui hukum Allah ta’ala pada perkara tertentu, kemudian dia tidak menjalankannya, jika hal itu dilakukan karena pengingkarannya (terhadap hukum tersebut), maka dia kafir dan ini tidak diperselisihkan lagi. Namun jika tidak demikian (tidak mengingkari), maka dia termasuk orang yang berbuat dosa besar, karena dia masih mengakui pokok hukum tersebut dan mengetahui kewajiban menjalankan hukum tersebut, tapi dia bermaksiat dengan meninggalkannya. Demikian pula halnya dengan perkara-perkara yang hukumnya sudah diketahui dengan gamblang dari syari’at ini seperti shalat dan selainnya berupa kaidah-kaidah yang sudah dimaklumi. Inilah madzhab Ahlus-Sunnah" [Al-Mufhim limaa Asykala min Talkhiisi Kitaabi Muslim, 5/117].
Telah berkata Al-Mufassir Muhammad bin Yuusuf Abu Hayyaan Al-Andaluusiy rahimahullah (w. 745 H) :
واحتجت الخوارج بهذه الآية على أن كل من عصى الله تعالى فهو كافرٌ وقالوا هي نص في كل من حكم بغير ما أنزل الله فهو كافر
“Khawaarij berhujjah dengan ayat ini (yaitu QS. Al-Maaidah : 44- Abul-Jauzaa’) bahwa setiap orang yang bermaksiat  kepada Allah ta’ala, maka termasuk golongan kafir. Mereka juga berkata : ‘Ia merupakan nash untuk setiap orang yang berhukum selain dengan apa yang diturunkan Allah, maka termasuk golongan kafir” [Tafsir Al-Bahril-Muhiith, 3/505, tahqiq : ‘Aadil bin Muhammad bin ‘Abdil-Maqshuud & ‘Aliy bin Muhammad; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Cet. 1/1413].
Ekstrim bukan ?
Dan paham-paham ini ternyata telah ada di bumi Nusantara ini…… alhamdulillah, beberapa di antaranya sudah ada yang dicokok pihak yang berwajib. Itulah Khawaarij, sekte paling ekstrim dalam penumpahan darah kaum muslimin. Mereka lah anjing-anjing penduduk neraka.
حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ أَبِي سَهْلٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي غَالِبٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ يَقُولُ شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ وَخَيْرُ قَتِيلٍ مَنْ قَتَلُوا كِلَابُ أَهْلِ النَّارِ قَدْ كَانَ هَؤُلَاءِ مُسْلِمِينَ فَصَارُوا كُفَّارًا قُلْتُ يَا أَبَا أُمَامَةَ هَذَا شَيْءٌ تَقُولُهُ قَالَ بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Telah menceritakan kepada kami Sahl bin Abi Sahl[2] : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan bin ‘Uyainah[3], dari Abu Ghaalib[4], dari Abu Umaamah, ia berkata : “(Khawaarij adalah) seburuk-buruk manusia yang terbunuh di bawah kolong langit, dan sebaik-baik manusia yang terbunuh adalah orang yang di bunuh oleh anjing-anjing penduduk neraka (= Khawaarij). Pada awalnya mereka muslim namun kemudian mereka menjadi kafir". Aku (Abu Ghaalib) bertanya : "Wahai Abu 'Umaamah, apakah ini hanya ucapanmu semata ?". Ia menjawab : "Bahkan aku mendengarnya dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam" [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 176; hasan].
حدثنا وكيع عن عكرمة بن عمار عن عاصم بن شمخ قال : سمعت أبا سعيد الخدري يقول ويداه هكذا - يعني ترتعشان من الكبر : لقتال الخوارج أحب إلي من قتال عدتهم من أهل الشرك
Telahmenceritakan kepada kami Wakii’[5], dari ‘Ikrimah bin ‘Ammaar[6], dari ‘Aaashim bin Syumaikh[7], ia berkata : Aku mendengar Abu Sa’iid Al-Khudriy berkata – dimana kedua tangannya seperti ini, yaitu gemetar karena telah tua - : “Sungguh, memerangi Khawaarij lebih aku senangi daripada memerangi sejumlah mereka dari kalangan kaum musyrik” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 15/305; lemah].
Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
قال ابن هبيرة: وفي الحديث أن قتـال الخـوارج أولى من قتـال المشركين والحكمة فيه أن قتالهم حفظ رأس مال الإسلام، وفي قتال أهل الشرك طلب الربح، وحفظ رأس المال أولى
“Telah berkata Ibnu Hubairah : Dan dalam hadits tersebut (terdapat petunjuk bahwa) memerangi Khawaarij lebih diutamakan daripada memerangi kaum musyrikiin. Adapun hikmah yang ada padanya adalah memerangi mereka (Khawaarij) untuk menjaga modal Islaam, sedangkan memerangi kaum musyrik untuk menambah laba. Menjaga modal lebih diutamakan daripada meraih laba” [Fathul-Baariy, 12/301].
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abu al-jauzaa’ – 4 Ramadlaan 1431].


[1]      Beliau rahimahullah telah mengatakan satu kalimat penting berkaitan dengan ini :
أجمع العلماء على أن الجور في الحكم من الكبائر لمن تعمَّد ذلك عالماً به…
Para ulama sepakat bahwa lancung/ketidakadilan dalam hukum termasuk dosa besar bagi siapa saja yang sengaja dalam keadaan mengetahuinya….” [At-Tamhiid, 5/74-75].
[2]      Ia adalah Sahl bin Zanjalah Abu ‘Amru Al-Khayyaath Al-Asytar Al-Haafidh (w. 231 H). Abu Haatim berkata : “Shaduuq”. Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat. Maslamah bin Al-Qaasim berkata : “Tsiqah”. Ada sebagian haditsnya yang diingkari ulama karena kekurangakurasiannya [selengkapnya lihat : Tahdziibul-Kamaal, 12/-188 no. 2611 dan Tahdziibut-Tahdziib 4/251-252 no. 440]. Adz-Dzahabiy berkata : “Tsiqah” [Al-Kaasyif, 1/469 no. 2170]. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq” [At-Taqriib, hal. 419 no. 2672]. Al-Albaaniy berkata : “Tsiqah” [Ash-Shahiihah, 2/470]. Abu Ishaaq Al-Huwainiy berkata : “Shaduuq” [Natsnun-Nabaal, hal. 633 no. 1407]. Basyar ‘Awwaad dan Al-Arna’uth berkata : “Tsiqah” [Tahriirut-Taqriib, 2/87 no. 2657].
Kesimpulan : Ia seorang tsiqah namun memiliki beberapa keraguan.
[3]      Sufyaan bin ‘Uyainah; ia adalah Ibnu Abi ‘Imraan Al-Hilaaliy Abu Muhammad Al-Kuufiy (107-198 H).
Ibnu Hajar berkata : “tsiqah, haafidh, faqiih, imaam, dan hujjah. Akan tetapi hapalannya berubah di akhir umurnya…..” [At-Taqriib, hal. 395 no. 2464].
Perkataan Ibnu Hajar : “hapalannya berubah di akhir umurnya” ; maka perkataan ini bersumber pada riwayat yang dinisbatkan kepada Yahya bin Sa’iid Al-Qaththaan. Ia (Yahyaa) ia berkata : “Bahwasannya Sufyaan bin ‘Uyainah mengalami ikhtilath pada tahun 197. Barangsiapa yang mendengar darinya pada tahun itu atau setelahnya, maka samaa’ (hadits)-nya itu tidak ada apa-apanya/tidak shahih” [Tahdziibul-Kamaal, 11/196, tahqiq : Dr. Basyaar ‘Awwaad; Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 1/1408].
Perkataan Ibnul-Qaththaan ini tidak benar. Bahkan Adz-Dzahabiy mengomentarinya sebagai riwayat yang munkar (yang disandarkan kepada Ibnul-Qaththaan), sebab Ibnul-Qaththaan meninggal pada bulan Shafar tahun 196 H. Lantas, bagaimana ia dapat bersaksi bahwa Ibnu ‘Uyainah mengalami ikhtilath pada tahun 197 ? [lihat penjelasan selengkapnya pada kitab Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 8/410].
Oleh karena itu, Ibnu ‘Uyainah adalah hujjah secara mutlak dalam hadits.
[4]      Abu Ghaalib Al-Bashriy, seorang yang diperselisihkan. Ibnu Sa’d berkata : “Munkarul-hadiits”. Ibnu Ma’iin berkata : “Shaalihul-hadiits”. Abu Haatim berkata : “Laisa bil-qawiy”. At-Tirmidziy menghasankan sebagian haditsnya, dan sebagian yang lain menshahihkannya. An-Nasaa’iy berkata : “Dla’iif”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Tsiqah”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Aku harap tidak mengapa dengannya”. Ibnu Hibbaan berkata : “Tidak boleh berhujjah dengannya kecuali jika berkesesuaian dengan riwayat perawi tsiqaat”. Musa bin Haarun telah mentsiqahkannya [lihat : Tahdzibul-Kamaal 34/170-173 no. 7561 dan Tahdziibut-Tahdziib 12/197-198 no. 904]. Adz-Dzahabiy berkata : “Shaalihul-hadiits” [Al-Kaasyif, 2/449 no. 6776]. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq yukthi’ (sering keliru)” [At-Taqriib, hal. 1188 no. 8362]. Al-Albaaniy berkata : “Hasanul-hadiits” [Ash-Shahihah, 1/841]. Basyar ‘Awwaad & Al-Arna’uth berkata : “Dla’iif yu’tabaru bihi” [Tahriirut-Taqrib, 4/249 no. 8298].
Kesimpulan : Ia seorang yang hasan haditsnya, jika berkesesuaian dengan riwayat perawi tsiqah. Dan di sini, riwayatnya diikuti oleh Shafwaan bin Sulaim, seorang perawi tsiqah.
[5]      Wakii’ bin Al-Jarraah bin Maliih Ar-Ruaasiy Abu Sufyaan Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah tsabat, lagi ‘aabid (127/128/129-196/197 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [At-Taqriib, hal. 1037 no. 7464].
[6]      ‘Ikrimah bin ‘Ammaar Al-‘Ijliy Abu ‘Ammaar Al-Yamaamiy (w. 159 H). Ahmad bin Hanbal berkata : “Mudltharibul-hadiits dari Yahyaa bin Abi Katsiir”. Ia juga berkata : “Mudltharibul-hadits dari selain Iyaas bin Salamah. Adapun haditsnya yang beasal dari Iyaas bin Salamah shaalih (baik)”. Yahyaa bin Ma’in berkata : “Tsiqah”. Di lain riwayat : “Tsabat”. Di lain riwayat : Shaduuq, tidak mengapa dengannya”. Di lain riwayat : “Ia seorang buta huruf, namun haafidh”. ‘Aliy bin Al-Madiiniy berkata : “Hadits-hadits ‘Ikrimah bin ‘Ammaar dari Yahyaa bin Abi Katsiir tidaklah seperti itu. Ia diingkari. Adapun Yahyaa bin Sa’iid mendla’ifkan keduanya”. Di lain riwayat : “Yahyaa melemahkan riwayat penduduk Yamaamah seperti ‘Ikrimah bin ‘Ammaar dan membuangnya”. Di lain riwayat ia (Ibnul-Madiiniy) berkata : “’Ikrimah bin ‘Amaar di sisi shahabat kami seorang yang tsiqah lagi tsabat”. Ahmad bin ‘Abdilah Al-‘Ijliy berkata : “Tsiqah”. Al-Bukhaariy berkata : “Mudltharibul-hadiits dalam riwayat Yahyaa bin Abi Katsiir, dan ia (‘Ikrimah) tidak mempunyai kitab (catatan)”. Al-Aajurriy berkata : “Aku pernah bertanya kepada Abu Daawud tentang ‘Ikrimah in ‘Amaar, maka ia berkata : ‘Tsiqah, dan dalam hadits Yahyaa bin Katsiir idlthiraab (goncang)”. An-Nasaa’iy berkata : “Tidak mengapa dengannya, kecuali haditsnya yang berasal dari Yahyaa bin Abi Katsiir”. Abu Haatim berkata : “Ia seorang yang shaaduq, kadangkala ragu, kadangkala pula melakukan tadlis. Sedangkan haditsnya yang berasal dari Yahyaa bin Abi Katsiir sebagiannya terdapat beberapa kekeliruan”. Zakariyyaa bin Yahyaa As-Saajiy berkata : “Shaduuq”. Muhammad bin ‘Abdillah Al-Muushiliy berkata : “’Ikrimah bin ‘Ammaar tsiqah di sisi mereka. Telah meriwayatkan darinya Ibnu Mahdiy. Dan tidaklah aku mendengar tentangnya kecuali hanya kebaikan”. ‘Aliy bin Muhammad Ath-Thanaafisiy berkata : “Tsiqah”. Shaalih bin Muhammad Al-Asadiy berkata : “Ia seorang yang shaduuq, kecuali dalam haditsnya terdapat sesuatu”. Ishaaq bin Ahmad bin Khalaf Al-Bukhaariy Al-Haafidh berkata : “Tsiqah”. Ibnu Khiraasy berkata : “Shaduuq, dan dalam haditsnya terdapat nakarah”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Mustaqiimul-hadiits, apabila meriwayatkan darinya perawi tsiqah”.  Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat dan berkata : “Dalam riwayatnya dari Yahyaa bin Abi Katsiir idlthiraab. Ia meriwayatkan dari selain jurusan kitabnya”. Ya’quub bin Syaibah berkata : “Tsiqah lagi tsabat”. Ibnu Syaahiin menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat dan berkata : Telah berkata Ahmad bin Shaalih : “Aku katakan bahwa ia seorang yang tsiqah, dan aku berhujjah dengannya dan perkataannya” [selengkapnya lihat : Tahdziibul-Kamaal, 20/256-264 no. 4008 dan Tahdziibut-Tahdziib 7/261-263 no. 475]. Adz-Dzahabiy berkata : “Tsiqah, kecuali riwayatnya dari Yahyaa bin Abi Katsiir, maka mudltharib” [Al-Kaasyif, 2/33 no. 3866]. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq, sering keliru. Dan riwayatnya dari Yahyaa bin Abi Katsiir idlthiraab” [At-Taqriib, hal. 687 no. 4706].
Kesimpulan yang tepat adalah sebagaimana dikatakan Adz-Dzahabiy rahimahullah.
[7]      ‘Aashim bin Syumaikh Al-Ghailaaniy. Al-‘Ijliy berkata : “Tsiqah”. Ibnu Hibbaan memasukkanya dalam Ats-Tsiqaat. Abu Haatim berkata : “Majhuul”. Al-Bazzaar berkata : “Tidak dikenal” [Tahdziibul-Kamaal, 13/495-496 no. 3010 dan Tahdziibut-Tahdziib 7/261-263 no. 475]. Adz-Dzahabiy berkata : “Ibnu Hajar berkata : “Telah ditsiqahkan oleh Al-‘Ijliy” [At-Taqriib, hal. 472 no. 3079]. Al-Albaaniy berkata : “Majhuul” [Dhilaalul-Jannaah, 2/444 no. 915].
Kesimpulan : Majhuul.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar